https://www.jurnalanestesiobstetri-indonesia.id/ojs/index.php/Obstetri/issue/feedJurnal Anestesi Obstetri Indonesia2026-07-20T12:50:16+07:00Prof. Dr. Tatang Bisri, dr., SpAn, KNA, KAOobstetrianestesi@gmail.comOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10.0pt; color: black; mso-themecolor: text1;"><img style="padding-right: 10px; width: 200px;" src="/ojs/public/site/images/Admin/Home_Page_JAOI2.png" align="left"></span>Indonesian Journal of Obstetric Anesthesia is a scientific journal first published on September 2018, by Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INASOACC). <span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; color: black; mso-ansi-language: IN;">INA-S</span><span style="font-size: 10.0pt; color: black; mso-ansi-language: EN-US;">OACC</span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; color: black; mso-ansi-language: IN;"> members are scattered throughout Indonesia, in total </span><span style="font-size: 10.0pt; color: black; mso-ansi-language: EN-US;">34</span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; color: black; mso-ansi-language: IN;"> members.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="EN-ID" style="font-size: 10.0pt; color: black; mso-themecolor: text1;">The designs of cover, lay out and typography are the work of Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC). </span><span lang="EN-ID" style="font-size: 10.0pt; color: black; mso-themecolor: text1;">ISSN online publication of Volume 1 Number 1 September 2018 is connected with online OJS system for articles processing and all articles is accessible online since the first issue at no charge. It is published every 4 months. In the midst of</span><span lang="EN-ID" style="font-size: 10.0pt; color: black; mso-themecolor: text1;"> expanding coverage of the journal, JAOI has in line with the organization's slogan "For Better Pregnancy-Related Outcome".</span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="EN-ID" style="font-size: 10.0pt; color: black; mso-themecolor: text1;">This journal is published as a vessel for various scientific articles including original articles, literature reviews, case reports. This journal is expected to provide evidence and knowledge in the field of Obstetrics and Critical Care for colleagues. </span><span lang="EN-ID" style="font-size: 10.0pt; color: black; mso-themecolor: text1;">We accept manuscripts in the form of Original Articles, Case Reports, Literature Reviews, both from clinical or biomolecular fields, as well as letters to editors in regards to Obstetric Anesthesia and Critical Care. Manuscripts that are considered for publication are complete manuscripts that have not been published in other national journals. Manuscripts that have been published in the proceedings of the scientific meeting can still be accepted provided they have written permission from the organizing committee. I</span><span class="Y2IQFc" lang="en">n accordance with the proposed frequency of new publications on ISSN starting in 2022 JAOI will publish every four months (March, July, November).</span></p> <p style="text-align: justify; margin: 0in 0in 11.25pt 0in;"><span lang="EN-ID" style="font-size: 10.0pt; color: black; mso-themecolor: text1;">To improve the quality of journal, we appreciate your input and suggestions for any improvement.</span></p>https://www.jurnalanestesiobstetri-indonesia.id/ojs/index.php/Obstetri/article/view/249Dienogest vs. Leuprolide Asetat pada Endometriosis: Sebuah Meta-Analisis2026-07-20T12:50:15+07:00Gilang Rizqy Perdana Aries Rohmangilangrpar@gmail.comLani Dianainilanidiana@gmail.comTatik Sujiatitatikkusuma24@gmail.com<p><strong>Latar Belakang</strong>: Endometriosis merupakan penyakit ginekologi kronis yang menyebabkan nyeri panggul dan menurunkan kualitas hidup. Dienogest diperkirakan memiliki efektivitas serupa dengan a<em>nalog gonadotropin-releasing hormone</em> (GnRH) seperti leuprolide asetat, namun dengan profil keamanan yang lebih baik. <br><strong>Tujuan</strong>: Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas dienogest dan leuprolide asetat dalam menurunkan nyeri panggul pada pasien endometriosis.<br><strong>Subjek dan Metode</strong>: <em>Systematic review</em> dan meta-analisis dilakukan sesuai pedoman PRISMA terhadap RCT yang membandingkan dienogest dengan leuprolide asetat pada pasien endometriosis. Pencarian dilakukan di <em>PubMed, ScienceDirect,</em> dan <em>Cochrane Library</em> hingga 12 Februari 2025. Luaran utama adalah perubahan skor nyeri berdasarkan <em>Visual Analog Scale</em> (VAS).<br><strong>Hasil</strong>: Enam RCT memenuhi kriteria inklusi. Dienogest menunjukkan penurunan nyeri panggul yang signifikan dibandingkan leuprolide asetat (MD 8,48 mm; 95% CI 2,33–14,63; p=0,007; I²=91%). Hot flush dan kekeringan vagina lebih sering terjadi pada kelompok leuprolide, sedangkan perdarahan terobosan lebih sering ditemukan pada kelompok dienogest.<br><strong>Simpulan</strong>: Dienogest efektif dalam mengurangi nyeri panggul terkait endometriosis dengan profil keamanan yang lebih baik terhadap efek samping hipoestrogenik, sehingga berpotensi menjadi pilihan terapi jangka panjang.</p>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Gilang Rizqy Perdana Aries Rohman, Lani Diana, Tatik Sujiatihttps://www.jurnalanestesiobstetri-indonesia.id/ojs/index.php/Obstetri/article/view/266Perbandingan Parameter Airway antara Wanita Hamil Aterm dengan Wanita Yang Tidak Hamil2026-07-20T12:50:13+07:00Bunga Reyza Fitri Kurniabunga.reyza.fk.br02@gmail.comAlfatah Bania Lubisalfalubisbdg@gmail.comEndry Septiadiendry.idol@gmail.comLinlin Haenilinlinhaeni644@gmail.comAndri Andrian Rusmanandri.andrian@lecture.unjani.ac.idTatang Bisritatang.bisri@yahoo.co.id<p><strong>Latar Belakang</strong>: Perubahan anatomi jalan napas dapat menimbulkan kesulitan pengelolaan jalan napas dan ventilasi mekanik bila dilakukan anestesi umum untuk seksio sesarea atau operasi non-obstetrik lain saat wanita tersebut sedang hamil.<br><strong>Tujuan</strong>: Penelitian ini untuk mengetahui adakah perubahan parameter <em>airway</em> pada wanita hamil aterm.<br><strong>Subjek dan Metode</strong>: Dilakukan penelitian pada 43 orang pasien hamil <em>aterm</em> yang akan dilakukan tindakan seksio sesarea di RS Melinda 1 dan 43 orang sebagai kelompok kontrol wanita dewasa yang tidak hamil. Penelitian dengan ijin etik No. 012/SE-RSIAM/ IV/2026. Diukur tinggi badan, berat badan, indeks massa tubuh (IMT), lebar buka mulut, skor Mallampati, jarak tiromental dan lingkaran leher. Data hasil penelitian dihitung dengan <em>Mann Whitney</em>.<br><strong>Hasil</strong>: Umur lebih tua pada wanita hamil aterm (<0,001), berat badan wanita hamil aterm lebih berat (p<0,001), IMT wanita hamil<em> aterm</em> lebih besar (p<0,001), tinggi badan tidak berbeda (p = 0,582), lebar membuka mulut lebih kecil pada hamil aterm (p=.0,014), skor Mallampati lebih besar pada hamil <em>aterm</em> (<0,001), Jarak tiromental tidak berbeda (p=0,46), lingkaran leher lebih besar pada wanita hamil <em>aterm</em> (p < 0,001).<br><strong>Simpulan</strong>: Terdapat perbedaan signifikan dalam berat badan, IMT, lebar buka mulut, skor Mallampati, dan<br>lingkaran leher, akan tetapi, tidak ada perbedaan jarak tiromental.</p>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Bunga Reyza Fitri Kurnia, Alfatah Bania Lubis, Tatang Bisri, Andri Andrian Rusman, Endry Septiadi, Linlin Haenihttps://www.jurnalanestesiobstetri-indonesia.id/ojs/index.php/Obstetri/article/view/231Tantangan Manajemen Perioperatif Syok Hemoragik pada Kehamilan Ektopik Terganggu: Sebuah Laporan Kasus2026-07-20T12:50:16+07:00I Putu Dharma Kresnakresnalaksana@gmail.comAditya KisaraKisara.tdk@gmail.comFaisal Faisalfaisal.faisaltdk@gmail.com<p>Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang dibuahi menempel di luar rongga rahim dan merupakan salah satu penyebab utama mortalitas pada trimester pertama. Seorang wanita berusia 32 tahun dengan G3P0030 dengan usia kehamilan 7-8 minggu yang mengalami kehamilan ektopik terganggu dengan syok hemoragik sebagai penyulit. Pasien menunjukkan gejala hipotensi berat, takikardia, dan asidosis metabolik yang diakibatkan oleh kehilangan banyak darah. Pasien dilakukan resusitasi dengan kristaloid, produk darah, dan dukungan vasopresor, operasi laparotomi dilakukan secara segera. Manajemen intraoperatif melibatkan pemilihan agen anestesi yang cermat, termasuk ketamin dan midazolam, untuk memastikan stabilitas hemodinamik. Perawatan pasca operasi di ICU meliputi penyesuaian vasopresor dan terapi cairan lanjutan, yang pada akhirnya mengarah pada stabilisasi dan keberhasilan ekstubasi. Kasus ini menunjukkan pentingnya diagnosis yang cepat, strategi resusitasi yang tepat, dan pemilihan anestesi yang cermat dalam penanganan syok hemoragik sekunder akibat kehamilan ektopik sehingga meningkatkan keberhasilan pemulihan pasien.</p>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 I Putu Dharma Kresnahttps://www.jurnalanestesiobstetri-indonesia.id/ojs/index.php/Obstetri/article/view/240Manajemen Ansietas Preoperatif pada Pasien Seksio Sesarea dengan Diabetes Gestasional dan Preeklampsia Berat: Studi Kasus2026-07-20T12:50:16+07:00I Putu Mahendra Yogi Semaragikbius2024@gmail.comTjahya Aryasa EMtjahya_em@unud.ac.idCynthia Dewi SinardjaSinardjatdk@gmail.comTjokorda Gde Agung SenapathiTjokorda@gmai.comGwyneth Felicia Odengwyneth.felicia.oden@gmail.com<p>Diabetes gestasional dan preeklampsia berat adalah komplikasi kehamilan dengan risiko tinggi bagi ibu dan bayi. Kehadiran gangguan ansietas-depresi campuran semakin menyulitkan manajemen perioperatif, memengaruhi stabilitas anestesi, hemodinamik, dan pemulihan pascaoperasi. Penelitian dilakukan pada manajemen anestesi wanita hamil berusia 32 tahun dengan preeklampsia berat, diabetes gestasional, keterlambatan pertumbuhan intrauterin (IUGR), dan gangguan ansietas-depresi campuran yang menjalani seksio sesarea elektif. Ansietas preoperatif dinilai dengan Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) dan menunjukkan ansietas sedang. Anestesi regional blokade subaraknoid (RA–BSA) dipilih bersama manajemen ansietas multidisiplin serta premedikasi midazolam, ketamin, dan ondansetron. Hasil menunjukkan pasien tetap stabil secara hemodinamik selama operasi. Bayi lahir dengan berat 1850 gram dan skor APGAR 8–9, sementara nyeri pascaoperatif dikelola secara multimodal dan tidak ditemukan komplikasi intraoperatif maupun pascaoperatif mayor. Penerapan pendekatan anestesi yang mengintegrasikan aspek medis dan psikologis dapat dijadikan standar dalam manajemen perioperatif kehamilan berisiko tinggi, karena terbukti membantu menjaga stabilitas hemodinamik, meningkatkan kenyamanan pasien, serta mendukung luaran neonatal yang lebih baik.</p>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 I Putu Mahendra Yogi Semara, Tjahya Aryasa EM, Cynthia Dewi Sinardja, Tjokorda Gde Agung Senapathi, Gwyneth Felicia Odenhttps://www.jurnalanestesiobstetri-indonesia.id/ojs/index.php/Obstetri/article/view/243Anestesi Epidural pada Seksio Sesarea Maternal dengan Defek Septum Atrium Sekundum dan Kemungkinan Hipertensi Pulmonal Ringan2026-07-20T12:50:15+07:00Esha Perdanadresha1687@gmail.comFitri Hapsari Dewifitrihapsarid@gmail.comAura Ihsaniarrabius.6055@gmail.com<p>Anestesi epidural merupakan salah satu teknik pilihan pada seksio sesarea karena dosis anestetik dapat dititrasi bertahap melalui kateter sehingga perubahan hemodinamik lebih gradual. Pada pasien dengan penyakit jantung bawaan (PJB), perencanaan anestesi yang cermat, evaluasi jantung praoperasi, pemantauan hemodinamik kontinu, posisi miring kiri, dan pemilihan obat yang tepat penting untuk menjaga stabilitas kardiovaskular. Kasus: Perempuan 26 tahun, G1P0 usia kehamilan 37+5 minggu dengan letak lintang, KPD 1 minggu, inpartu kala I fase laten, ASD sekundum dengan left-to-right shunt, probabilitas rendah hipertensi pulmonal, ASA III-E, menjalani SC emergensi dan insersi IUD dengan anestesi epidural. Operasi dan periode pascaoperasi berlangsung tanpa komplikasi anestesi maupun kardiak yang bermakna. Kesimpulan: Anestesi epidural merupakan pilihan yang aman dan efektif pada pasien PJB terpilih yang menjalani seksio sesarea, dengan penilaian menyeluruh, tatalaksana individual, dan pemantauan hemodinamik ketat untuk mengoptimalkan luaran ibu dan janin.</p>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Esha Perdana, Fitri Hapsari Dewi, Aura Ihsaniarhttps://www.jurnalanestesiobstetri-indonesia.id/ojs/index.php/Obstetri/article/view/265Managemen Anestesia untuk Seksio Sesarea Wanita Hamil dengan Morbid Obesitas dan Varicella2026-07-20T12:50:14+07:00Dewi Yulianti Bisriyuliantibisri@yahoo.comStefi Berlian Soefvianastefi.soefviana@yahoo.comFanny Indah PrammitafannyIndah@gmail.com<p>Seksio sesarea mempunyai berbagai masalah dengan harus mempertimbangkan keselamatan ibu dan bayi. Obesitas merupakan penyulit kehamilan. Varicella juga merupakan penyulit kehamilan. Penyulit varicella dan obesitas dapat mempengaruhi seluruh organ tubuh dan bukan saja pada masa kehamilan dan post partum, akan tetapi, juga setelah selesai masa nifas. Seorang perempuan umur 28 tahun dengan G3P0A2 mengalami varicella sejak umur kehamilan 35-36 minggu, berat badan 92 kg, tinggi badan 152 cm, BMI 39.1 kg/m<sup>2</sup>. Masuk ke RS Melinda 1 dan direncanakan dilakukan seksio sesarea. Obat yang diberikan preoperasi metochlopramide 10 mg intravena. Anestesi dilakukan dengan spinal anestesi, tusukan setinggi L4-L5 dengan jarum 29G, memakai obat bupivacain 0,5% hiperbarik 2cc, fentanyl 0,5 cc dan morfin 0,05 mg. Bayi lahir dengan berat badan 3050 gr, panjang badan 47cm. Apgar score 1 menit 9 dan 5 menit 10. Kontraksi uterus diukur dengan <em>linear analog scale</em> (LAS) dan hasilnya 8-9. Pascabedah pasien dirawat kembali di ruangan perawatan biasa. Analgetic pascabedah dengan fentanyl 25 ug/jam untuk 24 jam dengan hasil VAS 2.</p> <p> </p>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Dewi Yulianti Bisri, Stefi Berlian Soefviana, Fanny Indah Prammitahttps://www.jurnalanestesiobstetri-indonesia.id/ojs/index.php/Obstetri/article/view/253Kolaps Maternal dan Implikasinya terhadap Resusitasi Obstetrik2026-07-20T12:50:14+07:00Diana Christine Lalenohdiana.lalenoh@unsrat.ac.idE. Audrey Christine HerwendroAudreychristine@gmai.com<p>Kolaps maternal adalah kegawatdaruratan obstetrik kritis yang mengancam nyawa ibu dan janin, mencakup hilangnya kesadaran akut selama kehamilan hingga 6 minggu pascapersalinan. Keberhasilan resusitasi sangat bergantung pada pengenalan dini etiologi dan modifikasi algoritma bantuan hidup dasar maupun lanjut. Tujuan artikel ini mengulas penyebab kolaps maternal dan dampaknya terhadap upaya resusitasi berdasarkan perubahan fisiologis kehamilan. Etiologi kolaps dapat diidentifikasi melalui mnemonik "BEAUCHOPPS", dengan perdarahan, emboli, dan komplikasi anestesi sebagai penyebab utama. Perubahan fisiologis seperti sindrom kompresi aortokaval dan penurunan cadangan oksigen mengharuskan modifikasi resusitasi, termasuk pergeseran uterus ke kiri (left uterine displacement/LUD) dan pertimbangan seksio sesarea perimortem (perimortem cesarean delivery/PMCD) dalam waktu 5 menit. Kesimpulan dari penatalaksanaan kolaps maternal memerlukan pendekatan tim multidisiplin yang terkoordinasi. Pelatihan simulasi berkala dan kepatuhan terhadap protokol berbasis bukti sangat penting untuk meningkatkan angka kelangsungan hidup (survival rate) ibu dan bayi.</p>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Diana Christine Lalenoh, E. Audrey Christine Herwendrohttps://www.jurnalanestesiobstetri-indonesia.id/ojs/index.php/Obstetri/article/view/263Manajemen Anestesi pada Kehamilan dengan Spektrum Plasenta Akreta2026-07-20T12:50:14+07:00RTH Supraptomorth.supraptomo@gmail.com<p>Spektrum plasenta akreta (<em>Placenta accreta spectrum</em> /PAS) adalah kondisi klinis di mana vili korionik plasenta menginvasi miometrium secara abnormal. Insidensi PAS terus meningkat secara signifikan di seluruh dunia. Penulisan ini disusun menggunakan metode tinjauan pustaka yang mengevaluasi berbagai literatur terkait patofisiologi, kriteria diagnosis, serta strategi manajemen anestesi pra-operatif, durante operatif, hingga pasca-operatif. Manajemen PAS memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan spesialis fetomaternal, bedah, dan anestesiologi. Persiapan pra-operatif meliputi diagnosis akurat melalui USG/MRI, optimasi hemoglobin, serta penyediaan minimal 6 hingga 10 unit produk darah. Selama operasi, anestesi umum (GA) menjadi pilihan utama pada kasus risiko tinggi perdarahan atau plasenta perkreta karena menjamin kontrol jalan napas dan stabilitas hemodinamik. Strategi resusitasi kendali kerusakan dengan rasio produk darah (PRC, FFP, trombosit) dengan rasio 1:1:1 dan penggunaan <em>cell salvage</em> sangat krusial dalam mengelola perdarahan masif. Pada perawatan pasca operasi, hal-hal yang diperlukan meliputi ketersediaan produk darah yang memadai bagi pasien (biasanya 6–10 unit sel darah merah beserta komponen darah lainnya), pemantauan ketat di ICU, manajemen nyeri multimodal, serta profilaksis tromboemboli. Keberhasilan tatalaksana PAS sangat bergantung pada perencanaan perioperatif yang matang dan kolaborasi tim. Meskipun teknik neuraksial menawarkan keuntungan pemulihan, anestesi umum tetap merupakan standar emas pada kasus dengan invasi dalam guna menjamin keselamatan ibu.</p>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 RTH Supraptomo